Text
efektifitas relaksasi nafas dalam ( Slow Deep Breathing) terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi
Efektivitas Relaksasi Nafas Dalam (Slow Deep Breathing)
Terhadap Penurunan Tekanan Darah
Pada Pasien Hipertensi
Yessica Krisma Nadila Putri*, Rejo1
, Aris Widiyanto2
*
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mamba’ul ’Ulum Surakarta
Email : yessicaputri969@gmail.com
ABSTRAK
Latar Belakang: Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik sekitar 140 mmHg atau
tekanan diastolik sekitar 90 mmHg. Hipertensi merupakan masalah yang perlu diwaspadai,
karena tidak ada tanda gejala khusus pada penyakit hipertensi dan beberapa orang masih merasa
sehat untuk beraktivitas seperti biasanya. Hal ini yang membuat hipertensi sebagai silent killer
(Kemenkes, 2018), orang-orang akan tersadar memiliki penyakit hipertensi ketika gejala yang
dirasakan semakin parah dan memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan. Terdapat berbagai
faktor yang dapat memicu risiko atau kecenderungan seseorang menderita penyakit hipertensi,
diantaranya terdapat ciri-ciri seperti usia, jenis kelamin, suku atau ras, faktor genetik serta faktor
lingkungan. Yang meliputi terjadinya obesitas, stress, konsumsi garam, merokok, konsumsi
alkohol dan sebagainya. Hipertensi menunjukkan bahwa adanya masalah fisik yang sangat
signifikan dalam berkurangnya status emosional (Hartanti et al., 2016). Pentingnya hubungan
sosial pada penderita hipertensi karena hubungan sosial yang diberikan oleh orang lain akan
berdampak positif bagi penderita hipertensi untuk meningkatkan kesehatannya.
Berdasarkan penelitian Joseph, et al. (2005) didapatkan bahwa pada pasien hperensi, latian slow
breathing dengan frekuensi 6 kali permenit selama 15 menit dapat meningkatkan sensitivitas
barorreseptor (dari 5.8 ± 0.7 menjadi 10.3 ± 2.0 ms/mmHg) menurunkan aktivitas sistem saraf
simpatis dan meningkatkan aktivitas sistem saraf parasimpatis. Sedangkan penelitian Pal,
Velkumary dan Madanmohan (2003) menunjukan latihan slow deep breathing yang dilaukan 30
vii
menit 2 kali sehari selama 3 bulan dapat menurunka rata-rata tekanan darah diastolic (dari 11.27
± 1.53 menjadi 14.73 ± 1.70 mmHg dan menurunkan denyut nadi (dari 75.0 ± 8.32 menjadi 71.6
± 8.22 kali permenit.
Metode: Metode yang digunakan adalah Literature Review. Sesuai dengan tujuan penulisan
literature review ini, subyek yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data skunder yang
diperoleh bukan dari pengamatan langsung, akan tetapi diperoleh dari hasil penelitian yang
sudah dilakukan oleh peneliti terdahulu. Sumber data sekunder yang diperoleh berupa artikel
atau jurnal yang relavan dengan topik. Dilakukan dengan menggunakan database melalui,
Google Scholar, ProQuest, dan Science direct. Pencarian artikel atau jurnal menggunakan
keyword dan boolean operator (AND, OR NOT or AND NOT) yang digunakan untuk
memperluas atau menspesifikkan pencarian, sehingga mempermudah dalam penentuan artikel
atau jurnal yang akan digunakan. Kata kunci yang digunakan dalam penelitian ini yaitu,
“Therapy Slow Deep Breathing” AND “Therapy Meditation” AND “hypertension”.
Hasil: Hasil literature dari 5 jurnal yang telah direview oleh peneliti di bab sebelumnya,
sehingga dapat disimpulkan bahwa terapi relaksasi nafas dalam dapat menurunkan tekanan darah
pada penderita hipertensi. Hal ini bisa dibuktikan dari sebelum dan sesudah diberikan intervensi
yaitu terdapat penurunan sistole dan diastole.
Kesimpulan: Penelitian membuktikan bahwa pengrauh terapi relaksasi nafas dalam (slow deep
breathing) efektif di berikan kepada pasien hipertensi terhadap penurunan tekanan darah.
Kata Kunci: Tekanan darah, slow deep breathing, hipertensi.
Penulis:
1: Yessica Krisma Nadila Putri
2: Rejo
3: Aris Widiyanto
vii
Tidak tersedia versi lain